Sunday, August 5, 2012

Gonta-Ganti Foto Profil: Gejala Facebook Syndrome

Facebook memang fenomenal, karena berbagai fiturnya yang membuat para penggunanya selalu ingin mengunjungi sosial media yang satu ini setiap saat. Facebook juga sering dikenal sebagai media yang dapat membantu untuk 'menemukan' teman lama, sehingga silaturahmi yang sempat terputus pun dapat disambung kembali.

Berkaitan dengan berhubungan dengan teman lama maupun baru melalui Facebook, terkadang Facebook bisa mengalihkan Anda sesaat dari dunia nyata. Namun apabila Anda terlalu menikmati hidup dalam Facebook, bisa jadi Anda menderita Facebook Syndrome. Penyakit apa lagi ini? Coba simak gejalanya seperti yang diberitakan dari Your Tango (22/03/2012) berikut ini.
  1. Menanggapi kebahagiaan teman-teman Facebook secara tidak realistis.
  2. Terobsesi dengan kehidupan sehari-hari orang lain.
  3. Membandingkan kualitas hidup Anda dan teman-teman Facebook Anda.
  4. Mengubah-ubah tampilan foto pada profil untuk menarik perhatian.
  5. Merasa cemas apabila tidak memeriksa Facebook setiap beberapa menit sekali.
  6. Memenuhi isi otak dengan kutipan lucu, status, postingan, dan artikel di Facebook yang membuat Anda merasa lebih baik dan bahagia.
Jika Anda mengalami lebih dari dua gejala di atas, kemungkinan Anda pun menderita Facebook Syndrome. Gejala ini termasuk cukup berbahaya, sebab terobsesi pada dunia maya akan membuat Anda jauh dari kehidupan nyata dan dikucilkan oleh teman-teman di dunia yang sebenarnya.

Untuk mengatasi gejala ini, Anda sebaiknya mulai mengubah pola pikir Anda mengenai kejadian di Facebook. Anda tidak perlu merasa 'kalah' dari teman-teman Facebook yang membuat Anda menjadi stres ketika tidak bisa berbahagia seperti mereka. Tanamkan pada diri sendiri bahwa apa yang terjadi di kehidupan nyata jauh lebih penting daripada status Facebook.

Apabila Anda merasa kesulitan untuk menarik kesadaran diri sendiri, jangan malu untuk berkonsultasi dengan keluarga, teman, atau bahkan ahli konseling agar Anda bisa terbebas dari Facebook Syndrome.

Reporter: Rizqi Adnamazida
sumber: merdeka.com
pic: speedytown.com

Facebook dan Twitter Mengubah Wanita Lebih Kasar dan Agresif

Tahukah Anda bahwa dua situs jejaring sosial raksasa Facebook dan Twitter merupakan salah satu pengubah pola pikir dan cara bicara manusia khususnya wanita?

Menurut sebuah penelitian yang dikutip oleh Telegraph.co.uk, Facebook dan Twitter mengubah cara wanita berbicara serta mengubah perilaku mereka menjadi lebih terkesan kasar dan agresif.

Peneliti mengungkapkan bahwa bahasa tulisan yang digunakan kebanyakan wanita pengguna aktif Facebook dan Twitter menjadi lebih kurang sosial dan lebih singkat atau to the point. Tidak hanya itu saja, penggunaan kata-katanya juga lebih tajam serta cenderung kasar. Hal ini tidak lepas dari pergaulan dunia maya mereka yang secara tidak langsung mengubah pola pikir, pola bicara serta tingkah laku mereka. Seperti hasil penelitian para peneliti lain, wanita memiliki sisi tingkat pemahaman, pengolahan, serta semua hal yang menyangkut kosakata dan komunikasi lebih tinggi dibandingkan dengan pria.

Oleh karenanya, banyak wanita yang cenderung lebih suka berbicara dibanding dengan laki-laki. Hal ini bukan mempunyai artian bahwa wanita lebih suka bicara daripada bekerja, namun wanita memiliki tingkat pengolahan kosakata lebih banyak daripada pria. Dengan penggunaan situs jejaring sosial secara aktif, pola berbicara aktif tersebut menjadi menurun. Banyak wanita pengguna Facebook dan Twitter akan berbicara sepenuhnya saja mengadopsi apa yang mereka lakukan di dua situs tersebut.

Disadari atau tidak, menjamurnya situs jejaring sosial dan penggunaan teknologi sekarang ini terkesan seperti membunuh sisi sosial dari manusia. Semua lebih asyik dengan dunia maya daripada harus bergaul secara langsung di dunia nyata dengan orang lain. Penggunaan kosakata langsung dan tak terfilter juga sering dijumpai di Facebook atau Twitter.

Pengguna dua situs jejaring sosial ini rata-rata beranggapan akan lebih berani berkomentar secara panjang lebar atau juga secara kasar di dunia maya daripada berbicara langsung di dunia nyata dengan orang lain. Hal tersebutlah yang menjadikan pemikiran bahwa kebanyakan pengguna Facebook, Twitter atau situs jejaring sosial lain khususnya wanita lebih agresif, terkesan kasar, dan langsung pada pokok pembicaraan daripada harus mengolah kata lebih manis lagi.

Reporter: Dwi Andi Susanto
sumber: merdeka.com
pic: ezaa.org

Friday, August 3, 2012

Wanita IQ Rendah Suka Pria Kaya

Mungkin hasil penelitian yang mengungkapkan bahwa cewek dengan tingkat kecerdasan (IQ) rendah lebih memilih cowok kaya dan mapan ketimbang cowok biasa-biasa saja secara finansial ini bakal kurang disukai sebagian wanita karena terkesan memojokkan kaum perempuan. Namun begitulah kesimpulan yang disampaikan oleh Dr. Christine Stanik dari University of Michigan.

Sebuah penelitian mengungkapkan, perempuan dengan IQ rendah bukannya rakus dan ingin kaya raya, tapi mereka secara natural menginginkan keamanan finansial untuk anak-anak mereka.Penelitian yang dilakukan Dr. Christine Stanik dari University of Michigan mengatakan kepada Daily Mail, perempuan yang memiliki IQ rendah, tingkat pendidikan rendah dan pekerjaan yang suram memilih pria kaya daripada pria yang secara finansial biasa saja.

“Di masa lalu, perempuan tertarik dengan pria kaya karena mereka tahu dengan menikahi pria kaya mereka bisa bertahan hidup,” kata Stanik seperti dikutip dari Times of India. Menurut Stanik sekarang banyak perempuan yang memilih pria kaya karena tidak memiliki karir sendiri dan tidak punya kemampuan finansial mandiri.

Penelitian ini juga mengungkap, perempuan yang cerdas dan secara finansial mandiri dan kaya lebih memilih pria bodoh untuk percintaan jangka pendek. Fenomena ini terjadi karena perempuan yang cerdas dan mandiri lebih percaya diri.

sumber: sumutinfo.com
pic: alamindawa.com

Wanita Lebih Suka Pria yang Ketiaknya Bersih

Bagi wanita, pria yang mencukur bulu ketiaknya ternyata lebih menarik, dibandingkan pria yang membiarkan tumbuh begitu saja. Penyebabnya, wanita menganggap aroma tubuh pria jadi lebih baik, setelah bercukur.

Ini merupakan hasil penelitian tim dari Charles University di Praha, Republik Ceko, yang melakukan perbandingan. Partisipan dalam penelitian ini, membandingkan aroma dua kelompok pria. Yaitu, pria yang mencukur bulu ketiaknya dan pria yang membiarkan bulu ketiak tumbuh.

Peneliti lalu mengumpulkan sample dari aroma tubuh masing-masing pria. Lalu, meminta para wanita untuk menghirup aromanya, untuk dinilai seberapa menarik pria-pria tersebut. Hasilnya, para wanita lebih tertarik pada aroma pria yang mencukur bulu ketiak.

"Secara keseluruhan, efek dari cukur tidak cukup besar dan hanya sementara," kata Jan Havlicek, peneliti utama, seperti dikutip dari LiveScience. Para peneliti juga menemukan bahwa wanita lebih menyukai aroma ketiak pria yang baru dicukur, daripada yang telah ditumbuhi bulu.

Namun, para wanita tidak bisa membedakan aroma ketiak yang telah ditumbuhi bulu selama satu minggu dengan yang sudah dibiarkan tumbuh selama enam hingga 10 minggu pertumbuhan. Panjangnya bulu ternyata tidak berpengaruh pada aroma, karena aromanya tetap sama.

"Ini hasil yang cukup mengejutkan karena setelah bercukur selama satu minggu, bulu di ketiak panjangnya hanya beberapa milimeter," kata Jan.

Para peneliti berpikir bulu ketiak manusia, berevolusi untuk mempertahankan bahan kimia alami yang diproduksi oleh kelenjar ketiak. Sehingga, untuk mengintensifkan aroma tubuh alami, kemungkinan orang lain akan mencium aromanya dan menyukainya.

Sumber: niponk.blogspot.com
Pic: kunjunganartikel.blogspot.com

Pacaran: Eksperimentasi Seksual

Naaak, kalo pacaran jangan lama-lama..

Pernah mendengar anjuran seperti di atas? Atau mungkin pernah mendengar anjuran lain yang tidak terlalu jauh berbeda, seperti: Naak, kan udah pacaran lama, buruan nikah.

Mungkin di satu sisi, kita akan berpikir bahwa untuk mempersiapkan diri menuju jenjang perkawinan tentunya bukan perkara mudah, tapi mungkin dua anjuran atau wejangan di atas ada benarnya.

Sebelum membahas lebih dalam, saya akan menjelaskan definisi pacaran terlebih dahulu, pacaran merupakan hubungan lawan jenis secara permanen yang dirasakan nyaman, disukai, dan berkemungkinan untuk dilanjutkan kearah pernikahan. Meskipun memiliki banyak fungsi, pacaran pada rentang usia remaja dan dewasa memiliki fungsi di antaranya untuk rekreasi, memperoleh persahabatan tanpa menikah, memperoleh status, sosialisasi, eksperimentasi seksual, serta memperoleh keintiman.

Di antara banyak fungsi tersebut, pacaran menurut Spanier (dalam Duvall & Miller, 1985) lebih erat kaitannya dengan perilaku seksual. Walaupun sempat merasa kurang yakin dengan penjelasan tersebut, fakta yang saya temui ternyata cukup mencengangkan. Artikel yang dimuat Kompas 28 Januari 2005 dengan judul ”40% kawula muda ngeseks di rumah” mengungkap bahwa 474 remaja dengan usia 15-24 tahun yang menjadi partisipan penelitian 44% di antaranya mengaku telah melakukan hubungan seksual sebelum berusia 18 tahun.

Mereka yang melakukan hubungan seksual 85% di antaranya melakukan dengan pacarnya, dan sebanyak 36% menyatakan bahwa mereka mengenal pasangannya kurang dari enam bulan. Adapun penelitian ini dilakukan di wilayah Jakarta dan sekitar, Bandung, Surabaya, dan Medan. Dalam berpacaran sendiri perilaku seksual dapat dikategorikan menjadi 10 perilaku, yaitu: 
  1. pegangan tangan
  2. berangkulan
  3. berpelukan 
  4. berciuman pipi 
  5. berciuman bibir 
  6. meraba-raba dada 
  7. meraba-raba alat kelamin 
  8. menggesek-gesekan alat kelamin 
  9. oral seks, dan 
  10. sexual intercourse.
Pada umumnya, untuk mencapai sebuah tahap perilaku tertentu harus terlebih dahulu melakukan tahap sebelumnya. Sebagai contoh, untuk mencapai perilaku berciuman pipi, maka diasumsikan sebelumnya telah melakukan berpegangan tangan, berangkulan, dan berpelukan. Dalam kesehariannya, mungkin bisa dijabarkan secara sederhana bahwa dalam berpacaran biasanya individu ‘baru berani’ berpegangan tangan setelah sekian waktu. Untuk kemudian, ‘baru berani’ rangkulan atau pelukan setelah sekian lama pula. Begitu pula perilaku seksual berikutnya, ‘baru berani’ setelah waktu tertentu.

Di Indonesia sendiri, penelitian serupa pernah dilakukan Ariyanto (2008) dengan sampel mahasiswi salah satu Universitas ternama di Indonesia. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa di antara  138 partisipan, perilaku seksual yang paling banyak dilakukan adalah berciuman bibir dengan persentase sebesar 57%. Adapun waktu rata-rata yang dibutuhkan untuk bisa mencapai perilaku berciuman tersebut adalah 4,4 bulan.

Tingginya persentase berciuman, menurut Ariyanto (2008) terjadi karena masih adanya norma yang mengikat para individu untuk menjaga hubungan pacaran dalam batas yang wajar. Tidak melakukan hubungan sexual intercourse (penetrasi penis ke dalam vagina)sampai mereka berada dalam hubungan pernikahan yang sah. Berciuman merupakan perilaku seksual yang, walaupun juga dilarang, tapi masih dianggap sebagai perilaku yang wajar dilakukan oleh pasangan. Untuk perilaku seksual yang lain, meraba-raba alat kelamin dilakukan setelah 5,6 bulan, dan oral seks dilakukan setelah 6,2 bulan. Untuk sexual intercourse waktu rata-rata yang diperlukan adalah 10,1 bulan dengan persentase yang melakukan sebesar 6,5% dari 138 partisipan.

Penelitian di atas juga menghasilkan temuan bahwa yang mempengaruhi aktivitas perilaku seksual dalam berpacaran, selain lama berpacaran, adalah frekuensi pengalaman dalam berpacaran. Sebagai contoh, seorang yang pernah berpacaran sebanyak 10 kali memiliki kecendrungan yang lebih tinggi untuk melakukan perilaku seksual lebih banyak dibandingkan orang lain yang hanya 5 kali berpacaran. Berbagai teori yang membahas aktivitas perilaku seksual memang mencoba menjelaskan banyak alasan mengenai apa yang menyebabkan aktivitas seksual itu terjadi. Mengingat usia partisipan dalam penelitian tersebut dapat dikategorikan remaja akhir yang cukup banyak melakukan aktivitas dengan teman sebaya, maka faktor tersebut tidak dapat di kesampingkan.

Newcomb, Huba, and Hubler (1986) mengatakan bahwa perilaku seksual juga dipengaruhi secara positif orang teman sebaya yang juga aktif secara seksual. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan mengenai perilaku seksual dalam berpacaran, maka untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan perlu ditingkatkan kewaspadaan seiring dengan meningkatnya periode dan frekuensi pengalaman berpacaran.

Nova Ariyanto JoNo (ruangpsikologi.com), pic: dhea sekararum.
Sumber: Ariyanto, N. (2008). Hubungan citra tubuh dengan perilaku seksual dalam berpacaran pada remaja putri. Depok: F. Psi UI.

Damayanti, R. (2007). Peran biopsikososial terhadap perilaku berisiko tertular hiv pada remaja slta di DKI Jakarta. Jakarta: FKM UI.

Duvall, E.M., & Miller, B.C. (1985). Marriage and Family Development (6th edition). New York: Harper & Row. Newcomb, M.D., Huba, G.J., & Bentler, P.M. (1986). Determinants of Sexual and Dating Behavior Among Adolescent. Journal of Personality and Social Psychology, Vol. 50, No. 2,428-438. January 18, 2008. ABI/INFORM Global (APA) database.

Pola Pacaran Remaja Jakarta

Meski hasil penelitian berikut ini tidak mewakili seluruh remaja, namun bisa kita jadikan bahan renungan. Berdasarkan hasil penelitian Program Studi Doktor Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia yang dilakukan oleh Rita Damayanti, ternyata 5 dari 100 pelajar setingkat SMA di Jakarta telah melakukan hubungan seks sebelum menikah.

Perilaku pola pacaran yang dilakukan antara lain mulai berciuman bibir hingga berhubungan seks. Perilaku seks pranikah itu pun erat kaitannya dengan penggunaan narkoba di kalangan para remaja. Tujuh dari 100 pelajar SMA pernah memakai narkoba. Dia meneliti 8.941 pelajar dari 119 SMA dan yang sederajat di Jakarta (Suara Remaja-Suara Merdeka, 20 Mei 2010).

Ketika ditanyakan tujuan pacaran, mereka memberikan jawaban yang beragam. “Pacaran itu ya untuk ‘have fun’ aja, emang untuk apa lagi?” ujar seorang remaja. “Pacaran itu, hubungan pria dan wanita karena adanya perasaan saling suka,” ujar remaja lainnya. Seorang remaja lain menjawab: “Pacaran itu untuk menyeleksi pasangan hidup!”

Lalu sebenarnya apa sih pacaran itu? Sangat disesalkan bahwa tidak banyak remaja yang tahu tujuan pacaran itu. Memang ada juga yang menjawab dengan benar tetapi sangat sedikit, dan lebih banyak yang menjawab salah atau hanya menjawab: ”Nggak tau!” padahal ironisnya beberapa dari mereka justru telah menjalin hubungan yang disebut ‘berpacaran’. sumber, pic: remaja.co

65% Pelajar Solo Sudah Berciuman Saat Pacaran

Sebanyak 65% dari 352 pelajar di Kota Solo mengaku pernah melakukan kissing saat pacaran. Sementara sisanya, sebanyak 31% mengaku sudah melakukan petting dan sudah berhubungan badan.

Hal itu diungkapkan Direktur Lembaga Peduli Remaja (LPR) Kriya Mandiri Solo, Doni Dwi Cahyadi dalam talk show bertajuk "Selamatkan Generasi Muda Bangsa dari Bahaya Pornografi" yang diadakan LPK Kriya Mandiri bekerja sama dengan Kapmepi Jawa Tengah di aula SMKN 4 Solo, Minggu (9/8/2009).

Dalam kesempatan itu, Doni mengatakan berdasarkan hasil survei yang dilakukan terhadap 352 pelajar SMA, SMK, MA, di Kota Solo pada bulan Juni hingga awal Agustus 2009 terindetifikasi bahwa perilaku yang dilakukan pelajar pada saat mereka berpacaran sebanyak 65% menjawab pernah melakukan kissing atau ciuman. Sementara sisanya, 31% pernah melakukan petting dan 4% mengaku pernah berhubungan seks.

Menurut Doni, selama ini pemahaman kesehatan reproduksi remaja dan pendidikan tentang seks masih dianggap tabu di kalangan masyarakat. Reaksi yang muncul justru pendidikan tentang seks tidak boleh diberikan sebab dikhawatirkan akan memotivasi anak untuk melakukan hubungan seks pra nikah.

”Padahal, berdasarkan hasil survei menunjukkan bahwa sebanyak 95% responden mengaku pendidikan kesehatan reproduksi sangat penting bagi mereka lantaran minimnya informasi seputar masalah itu,” papar Doni.

Sementara itu, Kepala SMAN 4, Edy Pudiyanto M.Pd mengatakan, pada dasarnya, pendidikan seks yang terbaik adalah diberikan secara langsung oleh orangtua sendiri. Menurutnya, orangtua siswa bisa memberikan pendidikan seks dalam suasana akrab dan terbuka yakni dari hati ke hati.

sumber: kriyamandirisolo.wordpress.com
pic: catatankangridwan.blogspot.com