Pernah mendengar anjuran seperti di atas? Atau mungkin pernah mendengar anjuran lain yang tidak terlalu jauh berbeda, seperti: Naak, kan udah pacaran lama, buruan nikah.
Mungkin di satu sisi, kita akan berpikir bahwa untuk mempersiapkan diri menuju jenjang perkawinan tentunya bukan perkara mudah, tapi mungkin dua anjuran atau wejangan di atas ada benarnya.
Sebelum membahas lebih dalam, saya akan menjelaskan definisi pacaran terlebih dahulu, pacaran merupakan hubungan lawan jenis secara permanen yang dirasakan nyaman, disukai, dan berkemungkinan untuk dilanjutkan kearah pernikahan. Meskipun memiliki banyak fungsi, pacaran pada rentang usia remaja dan dewasa memiliki fungsi di antaranya untuk rekreasi, memperoleh persahabatan tanpa menikah, memperoleh status, sosialisasi, eksperimentasi seksual, serta memperoleh keintiman.
Di antara banyak fungsi tersebut, pacaran menurut Spanier (dalam Duvall & Miller, 1985) lebih erat kaitannya dengan perilaku seksual. Walaupun sempat merasa kurang yakin dengan penjelasan tersebut, fakta yang saya temui ternyata cukup mencengangkan. Artikel yang dimuat Kompas 28 Januari 2005 dengan judul ”40% kawula muda ngeseks di rumah” mengungkap bahwa 474 remaja dengan usia 15-24 tahun yang menjadi partisipan penelitian 44% di antaranya mengaku telah melakukan hubungan seksual sebelum berusia 18 tahun.
Mereka yang melakukan hubungan seksual 85% di antaranya melakukan dengan pacarnya, dan sebanyak 36% menyatakan bahwa mereka mengenal pasangannya kurang dari enam bulan. Adapun penelitian ini dilakukan di wilayah Jakarta dan sekitar, Bandung, Surabaya, dan Medan. Dalam berpacaran sendiri perilaku seksual dapat dikategorikan menjadi 10 perilaku, yaitu:
- pegangan tangan
- berangkulan
- berpelukan
- berciuman pipi
- berciuman bibir
- meraba-raba dada
- meraba-raba alat kelamin
- menggesek-gesekan alat kelamin
- oral seks, dan
- sexual intercourse.
Di Indonesia sendiri, penelitian serupa pernah dilakukan Ariyanto (2008) dengan sampel mahasiswi salah satu Universitas ternama di Indonesia. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa di antara 138 partisipan, perilaku seksual yang paling banyak dilakukan adalah berciuman bibir dengan persentase sebesar 57%. Adapun waktu rata-rata yang dibutuhkan untuk bisa mencapai perilaku berciuman tersebut adalah 4,4 bulan.
Tingginya persentase berciuman, menurut Ariyanto (2008) terjadi karena masih adanya norma yang mengikat para individu untuk menjaga hubungan pacaran dalam batas yang wajar. Tidak melakukan hubungan sexual intercourse (penetrasi penis ke dalam vagina)sampai mereka berada dalam hubungan pernikahan yang sah. Berciuman merupakan perilaku seksual yang, walaupun juga dilarang, tapi masih dianggap sebagai perilaku yang wajar dilakukan oleh pasangan. Untuk perilaku seksual yang lain, meraba-raba alat kelamin dilakukan setelah 5,6 bulan, dan oral seks dilakukan setelah 6,2 bulan. Untuk sexual intercourse waktu rata-rata yang diperlukan adalah 10,1 bulan dengan persentase yang melakukan sebesar 6,5% dari 138 partisipan.
Penelitian di atas juga menghasilkan temuan bahwa yang mempengaruhi aktivitas perilaku seksual dalam berpacaran, selain lama berpacaran, adalah frekuensi pengalaman dalam berpacaran. Sebagai contoh, seorang yang pernah berpacaran sebanyak 10 kali memiliki kecendrungan yang lebih tinggi untuk melakukan perilaku seksual lebih banyak dibandingkan orang lain yang hanya 5 kali berpacaran. Berbagai teori yang membahas aktivitas perilaku seksual memang mencoba menjelaskan banyak alasan mengenai apa yang menyebabkan aktivitas seksual itu terjadi. Mengingat usia partisipan dalam penelitian tersebut dapat dikategorikan remaja akhir yang cukup banyak melakukan aktivitas dengan teman sebaya, maka faktor tersebut tidak dapat di kesampingkan.
Newcomb, Huba, and Hubler (1986) mengatakan bahwa perilaku seksual juga dipengaruhi secara positif orang teman sebaya yang juga aktif secara seksual. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan mengenai perilaku seksual dalam berpacaran, maka untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan perlu ditingkatkan kewaspadaan seiring dengan meningkatnya periode dan frekuensi pengalaman berpacaran.
Nova Ariyanto JoNo (ruangpsikologi.com), pic: dhea sekararum.
Sumber: Ariyanto, N. (2008). Hubungan citra tubuh dengan perilaku seksual dalam berpacaran pada remaja putri. Depok: F. Psi UI.
Damayanti, R. (2007). Peran biopsikososial terhadap perilaku berisiko tertular hiv pada remaja slta di DKI Jakarta. Jakarta: FKM UI.
Duvall, E.M., & Miller, B.C. (1985). Marriage and Family Development (6th edition). New York: Harper & Row. Newcomb, M.D., Huba, G.J., & Bentler, P.M. (1986). Determinants of Sexual and Dating Behavior Among Adolescent. Journal of Personality and Social Psychology, Vol. 50, No. 2,428-438. January 18, 2008. ABI/INFORM Global (APA) database.







0 comments:
Post a Comment